| Produk Lari di Lapangan Desa (1974) |
Jangan Cuma Lihat Kurikulum! Luas Halaman Sekolah Ternyata Menentukan Tinggi Badan Anak
Masih penasaran soal tinggi badan anak? Setelah kemarin kita heboh membahas timing sunat, kali ini saya ajak Anda melihat faktor lain yang sering luput dari mata orang tua: Fisik Bangunan Sekolah.
Coba perhatikan fenomena di sekitar kita.
Sekarang menjamur sekolah-sekolah "elit", full day school, atau sekolah internasional yang menempati ruko-ruko atau gedung bertingkat di tengah kota. Fasilitasnya mentereng: Ruang ber-AC, tablet tiap meja, kurikulum impor. Tapi ada satu yang hilang: Tanah Lapang.
Sebaliknya, coba tengok sekolah-sekolah (biasanya Negeri atau swasta lama) yang punya lapangan upacara seluas alun-alun dan halaman belakang yang rimbun.
Hasil pengamatan "iseng" saya di lapangan menunjukkan pola yang menarik:
Anak-anak yang sekolah di area luas, cenderung tumbuh lebih bongsor dan tegap dibanding anak-anak yang sekolah di area sempit (meskipun gizinya sama-sama baik).
Kenapa bisa begitu? Apakah ini cuma cocoklogi? Tentu tidak. Ada mekanisme biologis yang berjalan di situ.
1. Tulang Butuh "Benturan" untuk Tumbuh
Dalam dunia medis, ada prinsip yang namanya Wolff’s Law. Sederhananya: Tulang itu benda hidup yang adaptif. Dia akan memadat dan memanjang jika diberi beban atau tekanan mekanik.
Di sekolah yang luas, saat jam istirahat anak-anak akan lari-larian, main bola, kejar-kejaran, atau melompat. Hentakan kaki ke tanah inilah "sinyal" bagi lempeng pertumbuhan tulang (epiphyseal plate) untuk bekerja lembur.
Di sekolah sempit? Jam istirahat anak-anak hanya duduk di kantin, main gadget di pojokan, atau ngobrol di lorong. Tulangnya "santai", tidak ada tantangan. Akibatnya, tubuh merasa tidak perlu memprioritaskan pertumbuhan tulang yang ekstrem.
2. Matahari vs AC
Sekolah dengan halaman luas memaksa anak untuk terpapar sinar matahari, entah saat upacara, olahraga, atau sekadar jajan di kantin luar. Sinar matahari = Vitamin D gratis. Dan kita tahu, Kalsium tanpa Vitamin D itu percuma, tidak bisa diserap tulang.
Sementara di sekolah "Ruko" yang tertutup rapat dan full AC, anak terlindung dari matahari. Nyaman memang, kulit jadi putih bersih, tapi tulang kehilangan sahabat terbaiknya: sinar matahari.
3. Analogi: Ayam Kampung vs Ayam Negeri
Biar gampang, bayangkan perbedaannya seperti Ayam Kampung (Free Range) dan Ayam Negeri (Broiler).
Ayam Kampung: Dilepas di kebun luas, lari sana-sini. Hasilnya? Daging padat, tulang keras, postur gagah.
Ayam Negeri: Hidup di kandang sempit, makan terus, gerak sedikit. Hasilnya? Gemuk (lemak), tapi tulangnya lunak dan tidak kokoh.
Anak kita mau dijadikan tipe yang mana?
Tips Buat Orang Tua
Memilih sekolah itu investasi masa depan. Kurikulum akademik itu penting, tapi Kurikulum Fisik (lingkungan) juga jangan diabaikan.
Saat survei sekolah, jangan cuma tanya "Nanti belajarnya pakai iPad nggak?", tapi cek juga:
Ada lapangannya nggak? (Bukan cuma lapangan basket indoor, tapi area lari bebas).
Mataharinya masuk nggak?
Jam istirahatnya anak-anak boleh keluar kelas nggak?
Ingat, masa SD-SMP adalah masa Growth Spurt (lonjakan pertumbuhan). Jangan sampai potensi tinggi badan anak Anda "terbonsai" hanya karena sekolahnya kurang lahan.
Biarkan mereka lari, biarkan mereka kena matahari. Biar tingginya menjulang menantang masa depan!
(Ditulis di sela praktek, sambil mengamati anak-anak pulang sekolah)
0 Komentar