MISTERI TINGGI BADAN ANAK: BENARKAH SUNAT TERLALU DINI BISA "MENGEREM" PERTUMBUHAN? (SEBUAH HIPOTESA)
Oleh: dr. Ujang Hermawan
Pernahkah Anda memperhatikan sebuah pola unik di sekitar kita? Coba perhatikan postur tubuh orang-orang Eropa (Bule) yang rata-rata menjulang tinggi. Atau bandingkan postur anak-anak di daerah yang punya tradisi sunat saat SD (seperti Jawa Tengah/Timur) dengan daerah yang punya tradisi sunat saat bayi/balita (seperti sebagian Jawa Barat).
Selama bertahun-tahun praktek dan mengamati pasien ("Ilmu Titen"), saya menemukan sebuah korelasi yang menarik. Tampaknya, WAKTU pelaksanaan sunat (sirkumsisi) memiliki hubungan dengan OPTIMALISASI TINGGI BADAN seseorang.
Kenapa anak yang disunat "telat" (usia 10-12 tahun) justru seringkali tumbuh lebih tinggi dibanding yang disunat bayi? Mari kita bedah menggunakan logika medis yang saya sebut sebagai: "The Early Keratinization Impact".
Kulup Bukan Sekadar Kulit Sisa
Secara biologis dan teologis, Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Kulup (preputium) yang menutupi ujung penis (glans) pada anak laki-laki memiliki fungsi krusial: sebagai PELINDUNG.
Selama kulup masih menutup, ujung saraf di glans penis tetap lembap, sensitif, dan berstatus mukosa. Dalam hipotesa saya, kondisi tertutup ini berfungsi sebagai "SENSOR PERTUMBUHAN".
Teori Keratinisasi Dini: Mematikan "Saklar" Pertumbuhan?
Inilah inti pemikiran saya. Ketika seorang bayi atau balita disunat, pelindung itu hilang. Ujung penis yang harusnya lembap, dipaksa beradaptasi dengan udara luar dan gesekan pakaian. Akibatnya terjadi Keratinisasi (penebalan/pengerasan kulit) jauh lebih awal dari jadwal biologisnya.
Apa akibatnya? Otak manusia itu pintar. Ketika "Sensor" di bawah sana berubah dari sensitif menjadi keratin (keras), otak mungkin menerjemahkan ini sebagai sinyal: > "Organ reproduksi sudah matang/siap pakai. Fase anak-anak sudah selesai."
Akibatnya, tubuh secara tidak sadar mengerem Fase Pertumbuhan Vegetatif (tumbuh ke atas/tinggi badan) dan beralih fokus ke pematangan seksual dini. Hormon pertumbuhan (Growth Hormone) yang harusnya memacu tulang, jadi terhambat karena sinyal "kedewasaan palsu" ini.
Fakta Lapangan: Jawa vs Bule
Lihat faktanya:
Orang Bule: Mayoritas tidak sunat atau sunat saat dewasa. "Sensor"-nya terjaga lama. Hasilnya? Tinggi badan maksimal.
Budaya Sunat SD (Jawa Tengah/Timur): "Sensor" dibuka saat pra-pubertas (kelas 5-6 SD). Anak sempat menikmati masa emas pertumbuhan 10 tahun tanpa gangguan. Pertumbuhannya relatif baik.
Budaya Sunat Bayi: "Sensor" dibuka paksa saat Golden Age. Sinyal pertumbuhan terganggu sejak awal. Coba cek data statistik stunting di wilayah dengan budaya ini.
Kesimpulan: Jangan Terburu-buru?
Sunat itu wajib bagi muslim dan sehat secara medis. Itu tidak diperdebatkan. Tapi soal TIMING (Waktu), mungkin kita perlu bijak.
Jika Anda ingin anak laki-laki Anda tumbuh menjulang tinggi secara maksimal, biarkan "tutup" alami pemberian Tuhan itu bekerja menjaga sensornya sampai waktunya tiba (akil baligh/usia 10-12 tahun). Biarkan tubuhnya fokus tumbuh ke atas dulu, jangan diganggu dengan sinyal kedewasaan dini.
Mungkin ini yang disebut hikmah penciptaan. Bahwa setiap inchi tubuh kita, bahkan kulup sekalipun, punya peran dalam skenario besar pertumbuhan manusia.
Bagaimana menurut Anda?
CATATAN DARI PENULIS:
Menulis analisis kesehatan dan mengamati fenomena unik seperti ini butuh konsentrasi dan stamina ekstra.
Di balik tulisan ini, ada secangkir Kopi DayaXtra yang menemani saya. Ini bukan sekadar kopi, tapi racikan herbal stamina yang saya formulasi sendiri untuk menjaga tubuh tetap bugar di tengah padatnya jadwal praktek dan riset "kecil-kecilan" ini.
Penasaran rasanya? Atau ingin mendukung "penelitian" independen ini agar terus berlanjut?
0 Komentar