Meluruskan Sejarah: Mengapa Batang Palupuh Adalah "Rumah Tua" Rafflesia Arnoldii (Bukan Hanya Bengkulu)


 Meluruskan Sejarah: Mengapa Batang Palupuh Adalah "Rumah Tua" Rafflesia Arnoldii (Bukan Hanya Bengkulu)

Oleh: Dr. Ujang Hermawan

Dalam percakapan keluarga, seringkali terselip kepingan sejarah besar yang terlupakan. Ibu saya, seorang wanita asli Batang Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pernah bercerita sebuah kisah yang sangat spesifik: "Dulu waktu Ibu kecil, Bung Karno pernah datang ke kampung kita di Batang Palupuh cuma buat lihat bunga Rafflesia."



Cerita ini sempat membuat saya penasaran. Publik tahunya Rafflesia itu identik dengan Bengkulu ("Bumi Rafflesia"). Apakah memori Ibu saya keliru? Atau justru sejarah branding kita yang melupakan fakta?

Setelah menelusuri literatur sejarah, ternyata Ibu saya benar. Dan faktanya jauh lebih menarik dari sekadar klaim daerah.

Bengkulu Menang di "Penemuan", Agam Menang di "Pelestarian"

Memang benar, secara taksonomi dan sejarah penemuan, Bengkulu memegang mahkotanya. Pada tahun 1818, Sir Thomas Stamford Raffles dan Dr. Joseph Arnold menemukan bunga bangkai raksasa ini di pedalaman Bengkulu. Dunia gempar, dan nama Bengkulu abadi di buku botani.

Namun, sejarah pelestarian (konservasi) justru dimulai di kampung halaman Ibu saya.

Pada tanggal 14 November 1930, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Gouverneur Besluit (Surat Keputusan Gubernur) yang menetapkan kawasan Batang Palupuh sebagai Cagar Alam (Natuurmonument). Tujuannya spesifik: melindungi habitat Rafflesia arnoldii.

Artinya, sejak tahun 1930—jauh sebelum negara ini merdeka—Batang Palupuh sudah menjadi "Kebun Raya" resmi untuk bunga langka ini. Ini menjadikan Batang Palupuh sebagai salah satu situs konservasi Rafflesia tertua di Nusantara yang dikelola secara sadar oleh pemerintah.

Jejak Bung Karno di Batang Palupuh

Validasi sejarah Cagar Alam 1930 ini menjelaskan memori Ibu saya. Sangat logis jika Presiden Soekarno, dalam rangkaian kunjungannya ke Sumatera Barat (Bukittinggi pernah menjadi Ibukota PDRI dan pusat perjuangan), menyempatkan diri berhenti di Batang Palupuh.

Lokasinya yang strategis di jalan lintas Bukittinggi-Medan, ditambah statusnya yang sudah mentereng sebagai "Cagar Alam Warisan Belanda", menjadikannya destinasi wajib bagi tamu negara saat itu yang ingin melihat keajaiban alam Indonesia tanpa harus menebas hutan belantara.



Kesimpulan

Sebagai putra daerah yang mengalir darah Batang Palupuh, tulisan ini bukan untuk mendebat Bengkulu. Namun, untuk mengingatkan kita bahwa Batang Palupuh, Agam, memiliki peran sentral dalam menjaga puspa langka nasional kita.

Nenek moyang kami di Batang Palupuh sudah hidup berdampingan dan menjaga bunga raksasa ini hampir satu abad lamanya. Sebuah warisan yang patut kita banggakan dan lestarikan.

Salam dari Batang Palupuh,

Dr. Ujang Hermawan



Posting Komentar

0 Komentar

Kopi DayaXtra