JEJAK DARAH BARET MERAH: Dari Rimba Irian hingga Pagar Betis Pertiwi




JEJAK DARAH BARET MERAH: Dari Rimba Irian hingga Pagar Betis Pertiwi

(Riwayat Juang Ayahanda Dr. Ujang Hermawan - Prajurit RPKAD)

Sejarah mencatat, tidak banyak prajurit yang hadir di Tiga Titik Nadir republik ini secara berturut-turut. Ayahanda adalah salah satu dari sedikit "Prajurit Paripurna" tersebut. Nafasnya adalah mesiu, dan hidupnya dihabiskan di medan operasi demi tegaknya Merah Putih.

Berikut adalah rekam jejak operasi militer beliau:

BABAK I: MENDARAT DI SARANG MUSUH (Operasi Trikora - 1962)

Misi: Rebut Irian Barat dari Belanda

Pada tahun 1962, Bapak terpilih menjadi bagian dari Gelombang Penerjun Pertama. Ini adalah misi bunuh diri. Pesawat Hercules C-130 terbang rendah menembus radar Belanda, membawa pasukan elite RPKAD dan satu-satunya sukarelawati wanita legendaris, Herlina Kasim (Si Pending Emas).

  • Fase Infiltrasi:

    Bapak terjun ke hutan belantara Irian. Begitu kaki menyentuh tanah, musuh sudah menunggu. Bukan hanya tentara Mariniers Belanda yang bersenjata lengkap, tapi juga alam ganas yang mematikan.

  • Perang Hutan & Diplomasi Adat:

    Di tengah hutan, logistik terputus. Pasukan terjepit antara tembakan Belanda dan kepungan Suku Pedalaman yang curiga.

    Dengan kecerdasan teritorial, Bapak melakukan negosiasi dengan Kepala Suku untuk meminta izin tinggal dan perlindungan. Syaratnya mutlak: Harus menjadi saudara sedarah.

    Demi keselamatan satuannya, Bapak maju dan menjalankan ritual Menyusu pada Ibu Adat.

    Hasilnya: Suku tersebut berbalik melindungi Bapak. Mereka menyembunyikan pasukan RPKAD dari patroli Belanda. Bapak selamat dan memenangkan misi infiltrasi tersebut hingga Irian kembali ke Indonesia.

BABAK II: GARIS DEPAN KALIMANTAN (Operasi Dwikora - 1963 s.d 1965)

Misi: Ganyang Malaysia (Konfrontasi Perbatasan)

Belum kering keringat dari Irian, panggilan negara datang lagi. Bapak dikirim ke perbatasan Kalimantan Barat, tepatnya di sektor Nanga Badau dan Sinaning.

  • Situasi:

    Kali ini musuhnya berbeda. Bapak berhadapan dengan pasukan elite dunia: SAS Inggris dan Gurkha. Perang berlangsung sengit di jalur-jalur tikus perbatasan.

  • Pengorbanan Keluarga:

    Saat Bapak bertaruh nyawa di parit pertahanan Sinaning, di Magelang, Ibu sedang berjuang melahirkan putra pertamanya (Kakak). Bapak tidak mendengar tangisan bayi pertamanya karena telinganya pekak oleh suara mortir di perbatasan. Bapak rela melewatkan momen menjadi ayah demi tugas negara.

BABAK III: MEMBERSIHKAN HALAMAN SENDIRI (Penumpasan G30S/PKI - 1965/1966)

Misi: Penyelamatan Ideologi Negara

Tahun 1965, Bapak ditarik pulang dari Kalimantan. Sesampainya di Magelang, Bapak disambut oleh pemandangan yang mengharukan: Putra pertamanya (Kakak) yang ditinggal sejak dalam kandungan, kini menyambutnya dengan sudah bisa berjalan.

Namun, istirahat itu singkat. Jakarta bergolak. Jenderal diculik. PKI memberontak.

RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo mendapat perintah: "Selamatkan Jawa Tengah!"

  • Operasi Sapu Bersih:

    Sebagai prajurit terlatih yang baru pulang perang, Bapak langsung diterjunkan kembali. Kali ini tidak perlu pesawat, tapi truk-truk militer menyisir kota-kota (Semarang, Solo, Boyolali, Magelang) untuk menumpas sisa-sisa pemberontak PKI.

    Bapak ikut memastikan keamanan wilayah, menjaga agar ideologi komunis tidak bangkit kembali di tanah Jawa.


EPILOG: WARISAN SANG KOMANDO

Dari hutan Irian melawan Belanda, parit Kalimantan melawan Inggris, hingga jalanan Jawa melawan Pemberontak, Bapak selalu ada di garis depan.

Beliau mengajarkan bahwa:

  1. Keberanian: Berani terjun pertama di tanah musuh.

  2. Kecerdasan: Tahu kapan harus menembak, tahu kapan harus merangkul (adat).

  3. Loyalitas: Rela meninggalkan anak istri demi panggilan tugas.

Kini, darah juang itu tidak hilang. Ia mengalir deras di tubuh putranya, Dr. Ujang Hermawan, yang kini berjuang di medan kesehatan untuk masyarakat.

Hormat Komando! 🫡🇮🇩



Posting Komentar

0 Komentar

Kopi Dayaxtra