Sejarah Tak Tertulis Masjid Ar Rahman Indra Indah: Keringat Warga, Bantuan Jazirah Arab, dan Doa Mbah Salman Popongan
Setiap bangunan tua selalu menyimpan cerita yang tak tertulis di prasasti peresmiannya. Bagi warga perumahan Indra Indah, bangunan itu adalah Masjid Ar Rahman.
Jika melihat wujud masjid ini sekarang yang makmur dan rindang, ingatan saya langsung terlempar ke sekitar tahun 1992. Masa-masa di mana kawasan perumahan ini baru mulai bertumbuh, dan semangat gotong royong warganya sedang menyala terang. Di balik kokohnya tiang-tiang masjid ini, ada perpaduan luar biasa antara tetesan keringat warga, uluran tangan dari benua seberang, dan—yang paling istimewa—doa dari seorang ulama kharismatik, KH. Muhammad Salman Dahlawi.
1. Keringat Swadaya dan Semen "Ngedek"
Proses berdirinya Masjid Ar Rahman ini adalah bukti nyata dari kekuatan swadaya masyarakat. Waktu itu, dana pembangunan dikumpulkan dari kantong-kantong warga yang peduli. Menariknya, semangat warga ini ternyata mengetuk pintu rezeki dari tempat yang jauh. Kami mendapat sedikit bantuan dana dari Jazirah Arab (kalau tidak salah ingat, dari Kuwait atau yayasan Timur Tengah lainnya) yang saat itu memang sering menyalurkan bantuan untuk syiar Islam di Indonesia.
Sebagai anak muda yang tinggal di lingkungan itu, saya ikut menjadi saksi hidup sekaligus pekerja kasarnya. Saya masih ingat betul rasanya ikut cancut taliwondo (kerja bakti) saat proses ngedek (pengecoran) bagian depan dan belakang masjid. Mengangkut adonan semen dan estafet ember bersama tetangga-tetangga. Lelah luar biasa, tapi kebersamaan dan canda tawa saat istirahat minum teh bikin semua rasa capek itu hilang.
2. Diresmikan oleh Umara, Didoakan oleh Ulama
Di sinilah letak sejarah spiritual yang mungkin tidak banyak diketahui oleh generasi muda sekarang. Secara administratif negara, Masjid Ar Rahman memang diresmikan oleh Bupati Karanganyar yang menjabat pada masa itu. Tanda tangannya mungkin yang terukir di batu prasasti.
Namun, sebelum pita peresmian itu dipotong oleh umara (pemerintah), fondasi spiritual masjid ini sudah lebih dulu ditancapkan oleh seorang ulama besar.
Jauh sebelum acara peresmian resmi, KH. Muhammad Salman Dahlawi—atau yang lebih akrab disapa Mbah Salman—rawuh (datang) secara khusus ke lokasi. Mbah Salman adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshur, Popongan, Klaten, sekaligus Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyyah. Beliau datang meninjau bangunan yang sedang dikerjakan, dan untuk pertama kalinya melangitkan doa di area masjid tersebut.
Bagi orang Jawa, doa dari seorang ulama sepuh sekelas Mbah Salman di awal pendirian sebuah tempat ibadah adalah ibarat menanam "paku bumi" keberkahan.
3. Kenangan Personal dengan Mbah Salman (Dari Pengawal Gaib hingga Urusan Asmara!)
Keluarga saya sendiri sebenarnya punya kedekatan batin dan cerita-cerita unik dengan sosok Mbah Salman. Beliau dikenal sebagai kiai yang sangat ngemong, tutur katanya halus, tapi memiliki ketajaman batin (kasyaf) yang luar biasa.
Suatu ketika, saya pernah sowan ke kediaman beliau di Popongan. Tiba-tiba saja beliau menarik tangan saya dan berkata sambil tersenyum, "Kesini kok bawa pengawal banyak banget." Saya yang saat itu datang hanya bersama beberapa orang fisik, langsung merinding menyadari bahwa mata batin beliau melihat "sesuatu" yang mendampingi saya yang tidak kasat mata.
Di luar cerita mistis itu, ada juga kenangan lucu yang selalu bikin keluarga senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya. Kakak saya dulu rupanya pernah mencoba PDKT dengan salah satu putri dari Mbah Salman! Yah, namanya juga usaha anak muda zaman itu, meski akhirnya garis jodoh berkata lain. Mengingatnya sekarang terasa seperti serpihan komedi manis di tengah karisma keluarga Popongan.
Menjaga Warisan Keringat dan Doa
Hingga hari ini, Masjid Ar Rahman tetap berdiri kokoh menaungi jamaahnya di Indra Indah. Setiap kali saya melintas atau salat di sana, saya tidak hanya melihat tumpukan batu bata dan semen. Saya melihat memori masa muda yang berpeluh keringat saat kerja bakti, dan saya merasakan jejak doa Mbah Salman yang mengalirkan keberkahan tak putus-putus.
Bagi generasi penerus di lingkungan Indra Indah, mari kita jaga dan makmurkan masjid ini. Ingatlah bahwa tempat suci ini tidak dibangun hanya dengan uang, melainkan dengan keikhlasan warga dan doa seorang waliyullah.
Punya kenangan tersendiri dengan Masjid Ar Rahman di era 90-an? Atau punya cerita sowan ke Mbah Salman di Popongan? Mari berbagi cerita di kolom komentar!
0 Komentar